Korupsi dalam pandangan Syari`at

Korupsi ialah menyalahgunakan atau menggelapkan uang/harta kekayaan umum (negara, rakyat atau orang banyak) untuk kepentingan pribadi. Praktik korupsi biasanya dilakukan oleh pejabat yang memegang suatu jabatan pemerintah. Dalam istilah politik bahasa Arab, korupsi sering disebut ‘al-fasad’, atau ‘risywah’. Tetapi yang lebih spesifik, ialah “ikhtilas” atau “nahb al-amwal al-`ammah”.

Islam diturunkan Allah -Subhanahu wa Ta`ala- adalah untuk dijadikan pedoman dalam menata kehidupan umat manusia, baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Tidak ada sisi yang teralpakan (tidak diatur) oleh Islam. Aturan atau konsep itu bersifat “mengikat” bagi setiap orang yang mengaku “muslim”. Konsep Islam juga bersifat totalitas dan komprihensif, tak boleh dipilah-pilah seperti yang dilakukan kebanyakan rezim sekarang ini. Mengambil sebagian dan membuang bagian lainnya, adalah sikap yang tercela dalam pandangan Islam (al-Baqoroh : 85).

Korupsi adalah suatu jenis perampasan terhadap harta kekayaan rakyat dan negara dengan cara memanfaatkan jabatan demi memperkaya diri. Dibantah atau tidak, korupsi memang dirasakan keberadaannya oleh masyarakat. Ibarat penyakit, korupsi dikatakan telah menyebar luas ke seantero negeri. Terlepas dari itu semua, korupsi apa pun jenisnya merupakan perbuatan yang haram. Nabi saw. menegaskan: “Barang siapa yang merampok dan merampas, atau mendorong perampasan, bukanlah dari golongan kami (yakni bukan dari umat Muhammad saw.)” (HR Thabrani dan al- Hakim). Adanya kata-kata laisa minna, bukan dari golongan kami, menunjukkan keharaman seluruh bentuk perampasan termasuk korupsi.

Di samping itu, kita juga dapat menemukan hadits Rasul saw. yang secara tegas berbicara tentang kolusi dan korupsi, yaitu :

“Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- melaknat orang yang memberikan uang sogok (risywah), penerima sogok dan perantara keduanya (calo).”

Lebih jauh lagi, Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari ‘Addiy bin ‘Umairah al-Kindy yang bunyinya, “Hai kaum muslim, siapa saja di antara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Lalu, kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti… . Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikan kepadanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah diambil.” Sabdanya lagi, “Siapa saja yang mengambil harta saudaranya (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaan), ia akan dimasukkan ke dalam neraka, dan diharamkan masuk surga.” Seorang sahabat bertanya,“Wahai Rasul, bagaimana kalau hanya sedikit saja?’ Rasulullah saw. menjawab, “Walaupun sekecil kayu siwak” (HR Muslim, an-Nasai, dan Imam Malik dalam al-Muwwatha).

Salah satu aturan Islam yang bersifat individual, adalah mencari kehidupan dari sumber-sumber yang halal. Islam mengajarkan kepada ummatnya agar dalam mencari nafkah kehidupan, hendaknya menempuh jalan yang halal dan terpuji dalam pandangan syara`. Pintu-pintu rezeki yang halal terbuka sangat luas, tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang awam, bahwa dizaman modern ini pintu rezeki yang halal sudah tertutup rapat dan tak ada jalan keluar dari sumber yang haram. Anggapan ini amat keliru dan pessimistik. Tidak masuk akal, Allah memerintahkan hambaNya mencari jalan hidup yang bersih sementara pintu halal itu sendiri sudah tidak didapatkan lagi. Alasan di atas lebih merupakan hilah (dalih) untuk menjustifikasi realitas masyarakat kita yang sudah menyimpang jauh dan menghalalkan segala cara.

Dalam waktu yang sama, Allah swt melarang hambanya memakan harta/hak orang lain secara tidak sah, apakah melalui pencurian, copet, rampok, pemerasan, pemaksaan dan bentuk-bentuk lainnya. Dalam kaitan ini, Allah swt berfirman dalam al-Qur`an:

“Dan janganlah kamu makan harta sesama kamu dengan cara yang batil”. (al-Baqoroh 188, dan An-Nisa`: 29).

Larangan (nahy) dalam ayat di atas menunjukkan bahwa memakan barang atau harta orang lain, baik bersifat individu atau harta orang banyak hukumnya haram. Pelakunya diancam dengan dosa.

Islam sebagai agama eskatologis, mengajarkan kepada semua umatnya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dalam QS Al Maidah,5;42, disebutkan bahwa memakan harta korupsi sama dengan memakan barang haram. Sanksinya secara sosial; dikucilkan dari masyarakat, serta kesaksiaannya tidak lagi diakui. Bahkan, seorang koruptor secara moral dalam etika Islam diharapkan dikenai sanksi sebagai orang yang tercela dan tidak disholatkan jenazahnya ketika mati.

Bagi umat Islam yang paling berat adalah sanksi terhadap pelaku korupsi di akhirat. Berdasarkan tafsir dan Fiqih, Korupsi dapat mencegah pelakunya masuk surga. Bahkan lebih dari itu, Korupsi dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Hal ini karena harta hasil korupsi termasuk suht (melincinkan kepentingan kolega). Harta korupsi juga akan membebani pelakunya di hari kiamat karena korupsi termasuk ghulul (khianat). Dengan melakukan pendekatan agama dan mengerti sanksi korupsi, bisa dimungkinkan niat untuk melakukan korupsi bisa berkurang. Soal sanksi, wallohu alam bisshowab.

Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa korupsi adalah pekerjaan yang diharamkan karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara tidak sah.

Wallahu a`lamu bish-Shawab

Hukuman Mati Bagi Koruptor Menurut UU;

Kalau ditelaah baik-baik, maka sesungguhnya UU sangat mendukung hukuman mati bagi koruptor. Berikut saya ikutkan tulisan-tulisan yang saya caplok dari situs-situs resmi di tanah air. Sebagai berikut;

http://www.inilah.com;
Padahal, dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi diberi ruang tentang hukuman mati itu. Yaitu, “dalam kondisi tertentu, hukuman mati terhadap koruptor bisa dilakukan.”

Persoalannya, para hakim menilai ‘kondisi tertentu’ itu belum memenuhi syarat. Karena persepsi demikian, pikiran tentang hukuman mati malah dianggap lelucon.

cetak.kompas. com;
“UU Pemberantasan Korupsi khusus Pasal 2 Ayat 2 UU No 31 Tahun 1999 yang memuat ancaman pidana mati…”

http://www.detiknews. com;
Wacana hukuman mati untuk koruptor menuai pro kontra. Pengamat hukum dari UGM Denny Indrayana menilai, hukuman mati bagi koruptor tidak melanggar HAM dan UUD 1945.

“Saya setuju hukuman mati diterapkan untuk koruptor. Secara konstitusional, itu (hukuman mati) tidak melanggar UUD. Secara HAM, itu tidak melanggar HAM. Secara hak Tuhan, itu berarti kita bicara agama. Dalam agama Islam yang saya anut, justru ada hukuman mati,” kata Denny.

http://www.eramuslim. com;
Wacana itupun dinilai sangat wajar oleh Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng, sebab dalam sistem hukum dan UU yang berlaku di Indonesia sampai saat ini masih mengakui hukuman mati, sebagai sanksi hukum yang paling maksimal.

“Wacana hukuman maksimal untuk korupsi, saya rasa sangat wajar. Tapi itu lebih baik jadi wacana masyarakat, kemudian dalam proses legislasi di DPR di kembangkan, “kata Andi.

http://www.eramuslim. com;
Pelaksanaan hukuman mati, lanjut mantan Presiden PKS tersebut, harus dilakukan dengan tegas dan cepat. Ia yakin penerapan hukam mati tidak akan menimbulkan protes bagi dunia internasional. “Malaysia dan Singapura bisa menerapkan, mengapa Indonesia tidak, ” katanya (Baca, Hidayat Nurwahid).

http://www.antara.co. id;
Pidana mati untuk koruptor di Indonesia bisa diberlakukan, bila mengacu kepada UU RI No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal 2 Ayat 2 menyebutkan Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan. Yang dimaskud dengan keadaan tertentu adalah apabila tindak pidana korupsi itu dilakukan bila keadaan negara dalam bahaya, bencana alam nasional, pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter.

Pengalaman Sendiri dalam Kehidupan Sehari-hari

Saya disini tidak akan menceritrakan berdasarkan hukum secara syariat Islam atau berdasarkan hukum UU yang ada di negara kita. Tetapi saya akan menceritakan dalam pengalaman kehidupan saya sehari-hari.
Pernah saya memunggut uang yang jatuh dijalan Rp. 10.000, dalam pikiran saya merasa beruntung dapat rejeki, uang tersebut habis dijajankan. Tetapi setelah satu minggu kemudian saya kehilangan uang Rp. 100.000 mungkin ini hanya kebetulan saja bahwa saya dalam hari itu dalam keadaan sial. Tetapi pengalaman seperti itu terjadi lagi, sekarang menemukan uangnya lebih besar lagi RP. 50.000 maklum saja pada saat itu saya lagi tidak punya uang sama sekali. Masih ingat pada saat itu disodaqohkan sebagain dan sebagaian lagi di gunakan untuk pribadi. Tetapi setelah 2 minggu kemudian, sekarang bukan uang yang hilang tapi seluruh keluarga saya istri dan anak saya termasuk saya sendiri sakit, yang habis biaya perawatannya lebih dari RP.500.000. Apakah ini hanya kebetulan saja? Itu mengambil uang yang tidak secara sengaja bagai mana kalau secara sengaja?.
Ada lagi pengalaman dikeluarga saya, yang kerjanya di pemerintahan. Pada saat akan matinya pernah dia cerita. Kata dia, mungkin saya sakit seperti ini yang tidak sembuh-sembuh karena banyak dosa, banyak memakan harta bukan hak saya. Sampai saudara saya tersebut habis kekayaanya unruk berobat, setelah miskin kemudian meninggal.
Itu memang sangat sesuai dengan keterangan dari quran dan hadis, bila kita memakan harta bukan hak kita mak aitu akan enjadi malapetaka dalam kehidupannya. Bila tidak menimpa dirinya sendiri mungkin akan menimpa istri atau suaminya atau anaknya atau cucu-cucunya. Adajuga yang keluarganya tidak harmonis, ada juga anaknya jadi berandalan, ada juga dalam kehidupannya tidak diberi ketenangan.
Itu mungkin hukuman didunia belum lagi nanti hukuman diakhirat. Maka sadarlah saya merasa kasian nanti walau tidak menimpa Anda tetapi ingat Anda itu punya keluarga, kehudupan tidak akan berhenti hanya sampai Anda saja. Sadarlah-sadarlah!!!

Mungkin dilingkungan Anda ada pengalaman yang lain?

Salam ngeblog

About these ads



    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: