TELEVISI MEDIA EDUKASI, BUDAYA DAN PEMERSATU BANGSA

Oleh Yayat Hidayatuloh, S.Pd

Televisi merupakan media yang dianggap paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi. Informasi yang diberikan dikemas dalam bentuk sebuah program acara yang dinamakan berita. Permintaan pasar yang tidak pernah surut akan informasi menjadikan berita sebagai program utama di setiap stasiun televisi.

Di samping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi, di sisi lain berita juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat, terutama anak-anak dan remaja yang mudah terbius dan terpengaruh dengan apa yang dilihatnya.

Jenis berita yang berpotensi untuk mengubah perilaku anak-anak dan remaja ke arah negatif adalah depth news yang berisikan berita-berita lebih mendalam dan rinci seperti berita kriminal. Berita kriminal kerap kali menyiarkan tayangan yang mengandung unsur pornografis, kekerasan, dan hedonisme.  Hal ini memicu munculnya perubahan perilaku pada anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja yang memiliki intentitas tinggi untuk menonton berita kriminal mulai menyesuaikan hal-hal yang diterimanya dengan realitas sosial. Sehingga pengaruhnya akan cepat diterima pada aspek behavioral yang meliputi tindakan untuk meniru adegan pornografis, kekerasan, dan hedonisme.

Keterlibatan orang tua dalam mengontrol anak mereka dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukannya. Tingkat keterlibatan orang tua yang terlalu sibuk dengan aktivitasnya cenderung rendah dalam proses pengontrolan terhadap tayangan berita yang dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Pada makalah ini ditemukan pengaruh tayangan berita di televisi terhadap perilaku anak-anak dan remaja.

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia. Dalam proses komunikasi terdapat pertukaran informasi. Media massa yang dianggap paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi adalah televisi. Kehadiran televisi dalam kehidupan manusia memunculkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi yang bersifat massal dan menghasilkan suatu efek sosial yang berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial dan budaya manusia. Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa menunjukkan bahwa media tersebut telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis (Kuswandi, 1998).

Kini tayangan berita di televisi semakin banyak dan berkembang sehingga menyebabkan pihak stasiun televisi berlomba-lomba untuk menyajikan kemasan berita yang eksklusif dan istimewa agar diminati masyarakat. Berita yang disajikan terdiri atas tiga jenis, yaitu: hard news, depth news, dan feature news. Hard news adalah berita mengenai hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan masyarakat dan harus segera diketahui oleh masyarakat, seperti kasus kriminal.

Tujuan dan Fungsi Televisi

a. Tujuan

Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 4, bahwa penyiaran bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur.

Jadi sangat jelas tujuan secara umum adanya televisi di Indonesia sudah diatur dalam undang-undang penyiaran ini. Sedangkan tujuan secara khususnya dimiliki oleh stasiun televisi yang bersangkutan, contohnya TVRI “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”. Dari uraian di atas dapat mengklarifikasikan mengenai tujuan secara umum adanya televisi atau penyiaran di Indonesia, adalah sebagai berikut:

1.   Menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2.   Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan

3.   Mengembangkan masyarakat adil dan makmur

b. Fungsi

Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi “Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.”

Banyak acara yang disajikan oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang perlu dilestarikan.

Dari uraian di atas mengenai fungsi televisi secara umum menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Media informasi dan penerangan
2. Media pendidikan dan hiburan
3. Media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya
4. Media pertahanan dan keamanan

Potensi Sosiopsikologis dan Kultural Indonesia

Tekad bangsa demikian, terpancar sebagai motivasi dan tujuan dalam sistem pendidikan nasional. Motivasi dan tujuan dimaksud dapat dihayati sebagai visi-misi kelembagaan sistem pendidikan nasional, yang terjabar dalam strategi dan program sistem pendidikan nasional; terutama:

Membudayakan nilai (moral) dasar negara Pancasila sebagai fungsi asas kerokhanian bangsa dan negara Indonesia, sebagai asas moral dan kepribadian bangsa sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 1945.

Menegakkan identitas (jatidiri) dan integritas Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya, beradab dan bermartabat sebagai pancaran dan perwujudan pengamalan nilai luhur ajaran sistem filsafat Pancasila: dalam integritas theisme-religious.

Meningkatkan pemberdayaan potensi (SDM) rakyat dan bangsa Indonesia sesuai dengan kondisi-potensi nusantara (= negara masyarakat agraris dan kelautan), dengan mengembangkan SDM unggul-kompetitif-terpercaya (sebagaimana terumus dalam tujuan pendidikan nasional) sebagai pengelola sumber daya alam nasional.

Nilai fundamental menjiwai dan melandasi budaya dan moral pengembangan modal dasar ekonomi nasional dengan memberdayakan ekonomi kerakyatan nusantara, sebagai negara pertanian dan negara kelautan. Pengembangan ini menjadi dasar dan soko guru ketahanan nasional bangsa sebagai bagian dari wujud kejayaan nasional NKRI.

Menegakkan dan membudayakan sistem kenegaraan Pancasila (berdasarkan UUD Proklamasi) dalam tatanan budaya dan ekonomi nusantara dengan dijiwai asas moral dan budaya politik ideologi Pancasila. Maknanya, pembudayaan moral dasar negara Pancasila akan menjamin integritas SDM warga negara yang bermartabat sebagai subyek bhayangkari integritas sistem kenegaraan Pancasila.

Meneropong Televisi Bagi Dunia Pendidikan

Kotak kecil yang dapat memunculkan tayangan dan suara ini kerap disebut masyarakat dengan televisi. Ia telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Bahkan, tidak jatang apabila dalam satu rumah tangga terdapat lebih dari satu televisi. Sebagai sebuah kebutuhan pokok, menonton televisi banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan menurut penelitian terakhir, setidaknya 12 jam per hari masyarakat menghabiskan waktunya di depan layar televisi. Sehingga menurut Jalaluddin Rahmad, (Kang Jalal) televisi telah mampu mengubah atau mengatur pola hidup masyarakat.

Televisi selain sebagai media hiburan dan informasi juga dapat digunakan sebagai media pendidikan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Darwanto dalam bukunya. Hal ini dikarenakan,televisi mempunyai karakteristik tersendiri yang tidak bisa dimiliki oleh media massa lainnya. Karakteristik audio visual yang lebih dirasakan perannya dalam mempengaruhi khalayak, sehingga dapat dimanfaatkan oleh negara dalam menyukseskan pembangunan dalam bidang pendidikan melalui program televisi sebagai sarana pendukung.
Televisi menjadi media yang cukup efektif dalam menjalankan atau mensosialisasikan program pemerintah. Pemerintah yang ingin masyarakat melek huruf, dapat menggunakan televise sebagai media pembelajaran melalui program belajar bersama. Sebagaimana yang dahulu hingga sekarang ada di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Dengan demikian, adanya televise tidak hanya menjadi modal utama dalam mewujudkan dan memperlancar program pemerintah dalam hal pendidikan dan pembangunan saja. Lebih dari itu, adanya televisi juga dapat dimanfaatkan sebagai ajang “mendekatkan diri” penguasa dan rakyatnya. Dikarenakan televisi mempunyai banyak kelebihan dalam perkembangan selanjutnya ia dapat mempengaruhi sikap, tingkah laku dan pola pikirnya. Namun, karena kelebihan tersebut, televisi juga dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini mengakibatkan penonton menjadi subyek penderita. Lebih lanjut, penontong dibuat pasif dan harus menerima apa yang ditayangkan oleh televisi. Dampak dari ini semua adalah, penonton tidak mampu memberontak terhadap apa yang disajikan. Penonton seperti dihipnotis, sehingga apa yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan atau kontrol akal sehat. Dengan demikian, penonton menjadi malas dan tidak kreatif. Maka kritik oleh Darwanto ini adalah televisi yang ada sekarang lebih tidak mendidik daripada mendidiknya. Artinya, program acara yang disajikan televisi swasta pada umumnya adalah sama. Tidak jauh dari tema, percintaan anak muda (atau bahkan masih duduk di bangku SMA), mistik, horror, anak nakal vs anak baik dan seterusnya.

Meneropong Televisi dari kebudayaan

Dengan perkembangan dan pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat menjadi tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Hal ini sangat disayangkan mengingat seni pertunjukan semisal wayang kulit merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, dan akibat globalisasi banyak seni pertunjukan tradisional sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi.

Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.
Di sisi lain, masih ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja seni pertunjukan tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat.
Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Tetapi televisi kita telah berkembang tidak sesuai dengan konstruksi diatas, dan berkembang hanya menjadi media hiburan, yang dapat dilihat dari dominasi hiburan pada acara-acaranya. Pada awal tahun 1990-an, televisi swasta mulai bermunculan seperti RCTI, SCTV ANTV, dan Indosiar. Televisi swasta ini merupakan sebuah industri yang harus hidup berdasarkan mekanisme pasar. Pada sisi ini, mekanisme pasar menghendaki agar tayangan televisi lebih banyak bersifat hiburan. pengisi waktu senggang para pekerja setelah lelah bekerja seharian. Semua acara televisi harus dikemas dan diformat sebagai hiburan, karena hiburanlah yang diinginkan oleh pasar. Yang dimaksud pasar disini adalah masyarakat/pemirsa dan pengiklan. Asumsinya, jika televisi berhasil memprogram dan menayangkan acara-acaranya sesuai dengan selera masyarakat dan mampu mengundang pemirsa dalam jumlah yang banyak untuk duduk di depan televisi, maka pengiklan akan datang.

Kepentingan pengiklan adalah menginformasikan produknya kepada segmen khalayak tertentu sebanyak mungkin. Dan televisi dipandang sebagai media yang dapat memenuhi syarat itu. Acara televisi apa saja asal ditonton banyak pemirsa, akan mengundang pengiklan. Ada saling ketergantungan kepentingan antara stasiun televisi, khalayak. dan pengiklanan. Hal ini menegaskan bahwa budaya televisi yang ada saai ini telah “menyimpang” dari fungsi ideal media massa, yaitu selain sebagai media informasi, hiburan, juga sebagai media pendidikan. Nilai-nilai kapitalisme telah merasuk dalam dunia pertelevisian, sehingga menjadikan televisi bukan hanya sebagai komoditas riil semata, namun juga sebagai komoditas budaya.

Mengharapkan media siaran televisi untuk secara konsisten melakukan sesuatu yang selalu bernilai positif bagi pendidikan dan moral adalah sama dengan mengharap langit untuk tidak berwarna biru. Bukan berarti tidak mungkin, tetapi dari kodratnya memang harus memantulkan warna biru. Begitu pula dengan media siaran televisi, yang hadir memang untuk menjadi pendulang kapital melalui komersialisasi produknya. Mengapa kapitalisme maju? Sebab, media siaran memainkan peranan penting untuk menjual komoditas gaya hidup kepada masyarakat konsumen. Ia selalu memproduksi program acara yang menjadi kegemaran masyarakat konsumen. Dan, untuk memenuhi tuntutan masyarakat konsumen terhadap komoditas hiburan ini, media siaran memanfaatkan budaya pop. Dengan logika seperti ini, produksi siaran dan aspek moralitas pendidikan dalam perspektif industri media televisi adalah dua hal yang terpisah. Kalaulah ada aspek moralitas pendidikan yang muncul dari suatu produk siaran, itu adalah hasil ikutan semata yang tidak didasarkan pada tujuan awal. Kini, televisi telah menjadi bagian dari sebuah industri kebudayaan.

Industri budaya, penciptaan budaya yang ditandai dengan “standardisasi, kemiripan, konservatisme, dusta, pemamipulasian konsumsi barang-barang” telah mendepolitisasi kelas buruh, membatasi wawasan mereka pada target politik dan ekonomi yang dapat direalisasikan dalam kerangka kerja opsesif dan eksploitatif masyarakat kapitalis (Storey, 2003: 149). Singkatnya, industri budaya mengecilkan hati “massa” untuk berpikir di luar batasan yang ada. Seperti diungkapkan Marcuse dalam One Dimensional Man : Akibat yang tidak bisa ditahan dari derasnya industri hiburan dan informasi adalah kemampuan membawa mereka pada perilaku dan kebiasan yang sudah ditentukan, reaksi intelektual dan emosional tertentu yang mengikat konsumen pada produsen dan produsen secara keseluruhan. Produknya mengindoktrinasi dan memanipulasi. Mereka mempromosikan kesadaran semu yang kebal terhadap kesalahannya (Storey, 2003: 150). Dilihat dari fenomena masyarakat industri,  kebudayaan pop cenderung menjadi kebudayaan massa. la lahir untuk menienuhi kebutuhan massa yang ingin menikmati waktu senggang alias hiburan. Maka wajar bila kebudayaan pop selalu mengikutsertakan jaringan komunikasi massa dalam menyebarluaskan produk dan aktifitasnya. la memassalkan diri lewat media massa. menibentuk citra modernisasi lewat tampang-tampang “keartisan”, membujuk konsumen dan penggemarnya lewat kiat iklan serta memberi kemasan dengan wahana teknologi canggih.



%d blogger menyukai ini: