Hitam dan Putih Pendidikan Indonesia

KASUS kebocoran soal yang melibatkan kepala sekolah dan guru SMA Kartika Chandra Kirana saat ini masih dalam persidangan. Padahal, kasus ini sudah terjadi bulan Mei 2008 lalu. Bukan hanya kepala sekolah dan guru SMA Kartika Chandra Kirana yang akan disidangkan, tapi juga kepala sekolah dan guru dari lima sekolah swasta lainnya yang masuk dalam sub rayon (subra) 16. Sekolah lain yang terlibat dalam kasus pembocoran soal ujian nasional (UN) 2008 lalu itu adalah SMA Cokroaminoto Tamalanrea, SMA Cokroaminoto Latimojong, SMA Tut Wuri Handayani, SMA Tri Dharma MKGR, serta SMA Abdi Pembangunan. Akibatnya, ujian ulang terpaksa dilakukan di enam sekolah tersebut.

Yang memilukan dan sangat ironis karena pembocoran ini dilakukan secara beramai-ramai oleh oknum kepala sekolah yang dibantu sejumlah guru. Pihak kepolisian sudah menetapkan enam kepala sekolah yang tergabung dalam sub rayon (subra) 16 tersebut sebagai tersangka. Namun, hingga saat ini  dan UN 2009 sebentar lagi digelar, kasus tersebut belum jelas ujung pangkalnya.

Yang menyakitkan lagi, karena hasil ujian nasional (UN) siswa sekolah menengah atas (SMA) sampai sekolah menengah pertama (SMP). Untuk UN SMP, Makassar yang menjadi barometer pendidikan di Sulawesi Selatan, hanya bertengger diurutan ke-19 dari 23 kabupaten/kota. Itu adalah salah satu gambaran kelam pendidikan di Sulsel, khususnya di Makassar, yang dijadikan sebagai barometer pendidikan di Sulsel.

Jika dibuka kembali catatan perjalanan pendidikan di Sulsel, maka akan ditemukan banyak sekali catatan hitam yang sangat memilukan. Lagi-lagi sangat ironis, karena melibatkan unsur pendidik sendiri sampai ke pejabat pemerintahan. Mungkin masih jelas saat penerimaan siswa baru (PSB) tahun 2008 yang diwarnai cobaan dengan maraknya laporan dan keluhan orangtua siswa terkait maraknya pungutan.

Bukan saja laporan dari orang tua siswa, tapi datang juga pengakuan dari mantan kepala sekolah yang secara blak-blakan mengakui perjalanan panjang mengenai pungutan di sekolah. “Prakteknya memang sangat tersembunyi dan sulit dideteksi. Mau dideteksi darimana, kuitansinya saja tidak ada. Misalnya, penerimaan siswa pindahan juga dibahasakan menjadi hak preogratif kepala sekolah. Jadi mau-maunya dia, apa dibagi atau tidak,” ujar mantan kepala sekolah tersebut.

Beberapa item yang masuk dalam pungutan liar seperti penerimaan siswa pindahan/ lewat jendela  (SMA pinggiran: Rp 1 juta-Rp 2 juta, SMA unggulan/ favorit: Rp 4 juta-Rp 6 juta), penjualan seragam+kelengkapan sekolah (SMA pinggiran: Rp 3,5 juta, SMA unggulan/ favorit: Rp 8 juta-Rp 10 juta. Ada juga pendapatan mark up: Rp 100 juta-Rp 200 juta, penjualan buku praktek yang nilainya tergantung status sekolahnya, dumbangan pembangunan, serta insentif iuran komite.

Tapi Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Patabai Pabokori, mengatakan bahwa hal-hal seperti itu tidak akan terulang lagi dan tidak akan ada lagi yang berani melakukannya.

Pihaknya telah menyempurnakan buku panduan dan juknis mengenai program pendidikan gratis, sehingga praktek-praktek yang merugikan tidak akan ada lagi.

Kasus lain yang melibatkan sekolah adalah mark up nilai lulusan SMAN  3 Makassar dalam proses penerimaan program JPPB Unhas. Kali ini, Kepala sekolah SMA Negeri 3 Makassar Ambo Sakka sebagai tersangka dan dicopot dari jabatannya. Salah satu siswa dari 12 siswa yang mendapat mark up nilai adalah putra Ambo Sakka sendiri.

Belum lagi kasus tawuran antar siswa yang membuat kepala geleng-geleng kepala. Mungkinkah masalah memalukan pendidikan itu akan terhapus? Ini adalah pekerjaan bagi kita semua.

Beruntung, karena di sisi lain, pendidikan Sulsel juga memberikan harapan yang membanggakan. Prestasi yang menggembirakan telah diukir siswa-siswi terbaik Sulsel.

Seperti meraih medali emas pada berbagai kompetisi pendidikan level nasional. Sebut saja Alvin Piter (SMP Rajawali) yang meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2008.

Pada Lomba Keterampilan Siswa (LKS) SMK, lima siswa Sulsel juga meraih medali emas. Mereka adalah Rudi Hartono (SMKN 5, automotive technology), Ibnu Hasyim (SMKN 5, refrigation), Anggun SS, (SMKN 8, hotel acomodation), Zulfikar (SMKN 8, Confectioner), dan Marhawati (SMKN 2 Sombaopu, tekstil).

Pada Festival Seni Sastra Nasional (FSSN) di Bandung, Juli lalu, siswa SMP Negeri 1 Sungguminasa, Fauzan, meraih medali emas untuk untuk kerajinan. Sedangka Syamsuddin dari SMAN 2 Bantaeng meraih perak untuk baca Al Quran.

Prestasi lain datang dari ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Jakarta, Agustus lalu. Ashari, A Agus Ardiansyah, Muhammad Datriansyah, dan Heri Herianto, yang merupakan siswa SDN 153 Tombolo, Bulukumba meraih emas untuk sepak takraw nomor double event. Muh Rijal Mumta dan Jursam Basri dari SDN 190 Lapalopo Pinrang juara pada olarhaga bridge.

Sedangkan Riskiyah Allaha dri SMPN 2 Pinrang menang pada olahraga karate. Sementara Rusdi, Edi Harianto, Amrullah R, dan Muh Hardiansyah dari SMPN 2 Cempa, menang di cabang takraw.

“Sebenarnya pendidikan kita juga sangat membanggakan. Memang ada kendala dalam prosesnya, tapi kita juga lihat dari segi positifnya. Soal nilai UN yang anjlok itu memang terjadi di tingkat SMP. Tapi di tingkat SMA, Sulsel menempati peringkat pertama untuk tingkat kelulusan secara nasional,” ungkap Patabai Pabokori.

Pengamat Pendidikan yang juga rektor UNM, Prof Aris Munandar, mengatakan prestasi pendidikan Sulsel memang patut diajungi jempol, meski tidak ada yang unggul dari tahun sebelumnya.

“Belum ada muncul sosok yang seperti Firmansyah yang mampu menggebrak mata dunia dengan kecerdasannya di bidang Fisika, sehingga meraih medali emas di level internasional,” ujarnya.

Memang ini adalah tugas berat pengelola pendidikan. Tapi, dengan kerja sama semua pihak, maka seberat apapun akan bisa ditangani dengan baik. Semoga pendidikan Sulsel ke depan bisa lebih baik lagi.(apriani landa/aqsa riandy)

HAMPIR SEMUA DAERAHMELAKUKAN SEPERTI ITU, ARTINYA KITA TELAH MEMBERIKAN PEMBELAJARAN PADA SISWA YANG TIDAK BAIK DAN ITU AKAN MENJADI BUMERANG PADI SEMUA YANG TERKAIT DALAM DUNIA PENDIDIKAN. SEKOLAH YANG BERBUAT SEPERTI ITU SEPERTINYA SUDAH MEMBERIKAN HAL YANG BAIK SEPERTINYA PADAHAL ITU SUDAH MENGHANCURKAN 4 GENERASI UNTUK ANAK DIDIKNYA. APA LAGI SUDAH MELAKUKAN PEMBENARAN BILA KITA MELAKUKAN KESALAHAN SEPERTI ITU. YANG JADI PERTANYAAN KAMI APAKAH TIDAK ADA CARA YANG LAIN?  ATAU MEMANG SUDAH TAU DIRI ANAKNYA TIDAK AKAN MAMPU DAN BILA PROTES PADA YANG MEMBUAT PERATURAN TAKUT MALU MUNGKIN!!!
Sumber Tribun-Timur http://www.tribun-timur.com/read/artikel/4336


  1. Mohai

    SISTEM PENDIDIKAN FINLANDIA

    “Saya kira tidak ada siswa pintar dan siswa bodoh.
    Yang ada adalah siswa yang belajar dengan cepat dan siswa yang agak lambat.”
    SAMPSA VUORIA, guru di Torpparinmaki Comprehensive School, Finlandia

    Ada yang membaca Kompas edisi Senin 12 November 2007,khususnya halaman 38? Di halaman itu ada separo halaman berisi berita yang sangat menarik mencengangkan. Nah, jika Anda melewatkan sebuah berita tentang pendidikan dengan judul “Belajar dari Sistem Pendidikan Finlandia”, Anda boleh merasa sayang.Berita tersebut sungguh mencengangkan saya. Meskipun kita pernah mendengar bahwa Finlandia adalah sebuah negara yang sistem pendidikannya paling unggul di seluruh dunia, namun berita yang ingin saya ringkaskan ini tetap menarik untuk kita camkan.

    Pertama, rumusan Vuorio yang saya kutip di tulisan paling atas itu menunjukkan betapa penting mengubah paradigma kita tentang anak-anak kita yang sedang belajar di sekolah. Jika kita tak mampu mengubah soal pintar-bodoh ini ya celakalah kita–dan celaka pula anak-anak kita. Setiap manusia itu unik, tidak ada yang sama. Masing-masing punya kekhasannya sendiri-sendiri.Jika anak-anak itu diseragamkan–terutama pikiran dan keinginannya–muncullah kemudian cap bodoh dan pintar itu. Padahal,anak-anak kita memiliki potensi yang luar biasa biasa. Potensi itu tidak harus dikaitkan dengan matematika, bahasa, atau yang lainnya.

    Kedua, di Finlandia tetap ada Ujian Nasional (UN). Tapi perhatikan yang satu ini: “Untuk mengevaluasi sistem pendidikannya, Pemerintah Finlandia menggelar UN. Namun, UN ini tidak diikuti oleh semua siswa dan tidak untuk semua mata pelajaran setiap tahunnya. ’Kami mengambil secara acak siswa yang mengikuti UN. Hasilnya hanya kami gunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan kami, bukan untuk menentukan kelulusan. Soal penilaian atau kelulusan itu urusan sekolah,” kata Leo Pahkin, konselor pendidikan dari badan Pendidikan Nasional Finlandia. Betapa primitifnya kita ya yang masih mati-matian menggelar UN?

    Ketiga, Finlandia mampu mengintegrasikan dunia pendidikan, riset, dan industri. Pemaduan ini telah mengubah Finlandia yang ekonominya semula ditopang hasil hutan dan pertanian menjadi negara industri berbasis teknologi tinggi. Di Finlandia ada sebuah lembaga bernama Tekes. Lembaga ini bertugas mendanai penelitian dan mempromosikan inovasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Hasil riset kemudian dimanfaatkan oleh industri.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: