bAgOnG MaSuK KotA

By. Tejo

Bagong kalau di Sunda merupakan sebuah nama untuk binatang, menurut bahasa Indonesianya disebut celeng. Bagong ini biasanya ada dihutan belantara, yang makananya cacing, umbi-umbian, atau makanan apa saja yang bisa dia makan. Ciri-cirinya bagong (celeng), mulutnya monyong, ada taring kepalanya précis tikus got atau “cucurut” yang baunya lumayan mengganggu pada hidung kita.

Daging bagong kalau menurut agama islam haram untuk dimakan, karena:
1. daging bagong mengandung cacing pita di dalamnya.
2. bila kita makan dan cacingnya masih hidup maka akan masuk ketubuh manusia khususnya hati.
3. Bisa timbul beberapa penyakit yang lain bila kita makan daging bagong
4. Allah memberikan pasangan di dunia ada daging haram ada juga daging halal.
5. Kenapa mesti makan daging bagong daging lain juga masih banyak yang bisa kita makan halal lagi, contoh daging sapi, domba, kambing, ayam dll.

Daging bagong bisa kita makan dan bisa halal bila kita dalam keadaan kelaparaan dan tidak ada makanan lain selain hanya yang ada daging bagong. Ya tentu juga itu semua akan kita menanggung risiko bila timbulnya semua penyakit yang diakibatkan dari pengaruh danging bagong tersebut.

Untuk Suku Sunda yang beragama islam, menyebut saja nama bagong itu sudah jadi pantangan atau diharamkan, karena menurut nenek moyangnya itu akan menjadi membawa malapetaka bagi yang menyebutkannya. Seperti akan susah mencari rizki, akan dijauhi dengan teman-teman kecuali dengan bangsanya sendiri, kehidupannya akan serat dan sulit untuk menjadi orang maju.

Memang kalau kita perhatikan dan dipikirkan secara logika, emang ada benarny. Kalau kita simak cerita ini baru kita akan mengerti kata-kata nenek moyang dulu itu. Ada seorang karyawan sebuah perusahaan dikeluarkan dari pekerjaannya, kenapa suka menyebutkan bagong pada temannya, kemudian karyawan tersebut dipanggil oleh atasannya. Kata atasannya, kenapa Anda sering bilang bagong pada saat bekerja apakah tidak ada kata-kata lain yang lebih bagus untuk disebutkan?. Kata karyawan tersebut, maaf pak bagong saya, eh maaf pak. Langsung atasannya marah kemudian langsung karyawan tersebut dikeluarkan, karena takut membawa penyakit kesemua karyawan yang ada diperusahaan tersebut. Kalau semua karyawan sudah bilang bagong keatasannya ditakutkan menjadi perusahaan dengan semua karyawannya bagong.

Banyak lagi cerita lain yang berhubungan dengan kata bagong yang akibatnya bisa membawa malapetaka bagi orang yang menyebutkannya. Maka carilah kata-kata yang baik dan bermakna selain dari kata “BAGONG”, buatlah orang lain menjadi manusia bukan menjadi binatang. Karena kalau tidak bangsa binatang yang khususnya bagong dan anjing akan terlecehjan martabatnya. Mungkinkah dunia ini sudah hampir kiamat, yang semuanya sudah terbulak-balik. Coba saja binatang-binatang diberikan nama-nama yang bagus bahkan ada juga yang namanya lebih bagus dari manusia, tetapi kenapa nama manusia yang baik diganti dengan nama binatang. Apakah ini yang disebut dengan dunia kebinatangan???

Hujan Emas VS Hujan Batu Edit Link

Hujan Emas di Negeri Orang, Lebih Baik Hujan Batu di Sekolah Sendiri

Sesudah laporan saya dimuat dalam kolom ini Minggu lalu, yang meliputi tawuran di tahun 2000 Plus, banyak sekali surat pembaca yang membanjiri meja redaksi. Ini mengherankan. Bukan karena banyaknya surat, melainkan karena surat ini disebut sebagai surat pembaca. Padahal yang lebih tepat adalah surat penulis, sebab pembaca tidak berkirim surat, melainkan malah menerima surat. Lantas bagaimana bisa redaksi menerima surat pembaca, apalagi sampai banjir?
Surat yang satu datang dari AMIS, yaitu Asosiasi Murid Intra Sekolah, dan satunya lagi dari AKIK, yaitu Asosisasi Karyawan Inter Kantor. Lho tapi kalau Cuma dua, apanya yang banjir, kok dibilang “membanjiri”?. Banjirnya tetap saja, sebab yang banjir Laut Jawa melanda Jakarta.
Kedua surat senada itu sama-sama memprotes laporan saya yang mereka anggap tanpa nada. Surat dari AMIS berbunyi tlepok! Dan setelah disobek kreek! Lalu dibaca berisi begini:
“Bapak Redaksi Yth,
Bersama ini kami ingin berkirim sepucuk surat untuk meluruskan kesalahpengertian seperti yang dilaporkan oleh wartawan kolom Indonesia, tahun 2000 Plus minggu lalu yang berjudul “Melampaui Batas Tawuran, Sih,” di mana dilaporkan tawuran ditahun 2000 Plus sudah tidak lagi dilakukan oleh kami, para murid SMP, SMA dan SMK, melainkan sudah diambil alih oleh bapak karyawan kantor.
Dengan segala hormat kami kepada Bapak-Bapak itu, kami merasa terpaksa meluruskan perkaranya. Sebagai generasi muda dari zaman tahun 2000 Plus ini kami berkeberatan sekali kalau dikatakan seolah-olah kami telah kehilangan élan untuk tetap mempertahankan semangat perjuangan di jalan-jalan, saling serbu ke sekolah-sekolah lawan, mencegatai lawan di bis-bis, menculik dan menimpuki batu-batu terhadap mereka.
Kami tetap konsekuen, Pak! Sekali menimpuk tetap menimpuk! Jiwa muda takkan luka kena obeng, tak benjol kena batu! Maaf, Pak, tapi bapak-bapak yang dikantor itu sampai sekarang, di tahun 2000 Plus ini pun tetap tidak pernah menunjukkan semangat mau menyelesaikan persoalan di antara mereka secara jantan. Kalau ada perselisihan paham dia antara beliau-beliau itu, persoalannya paling-paling ditanyani dengan cara saling menulis memo, mengadakan rapat darurat, dan paling banter lapor ke DPR.
Cara-cara begitu tidak jantan, Pak, dan tidak sesuai dengan jiwa muda, dank arena itu kami tidak akan gunakan. Dan segala kemeriahan ibukota di masa depan itu, semua masih berkat tidak tidak lunturnya generasi muda dalam mengungkapkan solidaritas antar kawan, dan sikap gagah berani menghadapi lawan.
Seandainya wartawan rubrik itu lebih investigative dalam melakukan reporting-nya, tentu ia akan tahu, sebenarnya situasi berantem massal di zaman kami pun penuh-penuh di tangan kami, generasi muda ini. Tapi kami tidak akan menuntut penulis rubrik yang sering tidak berdasarkan fakta ini. Menuntut adalah banci. Kami akan selesaikan sendiri persoalan kita, dengan cara-cara kami sendiri. Persediaan batu kami masih cukup banyak. Wassalam dan terimakasih kami ucapkan atas dimuatnya surat kami.”
Dan surat senada kami terima dari para karyawan kantor yang dengan berang mengatakan:

“Hai, Redaksi!”
Apa maksudnya tulisan “Melampaui Batas Tawuran, Sih” seminggu lalu yang mengatakan, di tahun 2000 Plus, para karyawanlah yang telah menggantikan anak-anak sekolah dalam mengadakan perkelahian-perkelahian massal? Kami sebagai karyawan dari zaman itu, dengan ini memprotes sekeras-kerasnya insinuasi itu, bahkan lebih keras daripada yang sekeras-kerasnya.
Hai, penulis! Apa maksud Anda menulis artikel isapan jempol itu? Tidak tahukah Anda, fitnak itu lebih kejam daripada Fatmah? Kami mempunyai cara-cara sendiri untuk menyelesaikan masalah secara beradab. Tidak dengan melempar batu dan menikam dengan obeng. Paling-paling kita akan usahakan menyelesaikan persoalan dengan memberi pelicin yang lebih besar, mengarang dalih-dalih yang lebih licin, dan sebagainya.
Kecuali dalam urusan fitnah begini, yang lewat surat kabar pula. Awas, kami tahu rumah Anda di mana, juga dimana saja sekolah anak-anak Anda. Jadi waspadalah waspadalah!.
Dari kami di alamat palsu.”
Toh saya tetap nekad. Surat-surat ancaman itu saya beberkan juga. Tapi saya sudah siap mengerahkan teman-teman anak-anak saya yang di SMP, SMA maupun yang di STM. Coba saja kalau berani nyerbu.


  1. Prihatin

    Fakultas Protestologi, Jurusan Demonstrasi

    Bagi pelajar yang lulus SMA, dan mau meneruskan pelajarannya ke perguruan tinggi, masih ada kebingungan yang harus dihadapi. Ialah, ke perguruan tinggi mana, jurusan apa? Ke fakultas teknik? Memperbaiki sepeda roda tiga punya adiknya saja tidak becus. Ke fakultas ekonomi? Uang saku untuk sebulan, baru seminggu saja sudah tekor. Fakultas Sastra? Les privat bahasa Inggris kilat yang ditanggung mahir dalam satu bulan tamat saja, baru lima hari juga sudah dropout. Lalu ke mana?.
    Pertanyaan begini tidak perlu ditanyakan lagi, kalau kita sudah mendengar rencana yang dipunyai oleh Prof. Dr. Packar Socktau, B.A., seorang pakar pendidikan yang baru saja dipulangkan dari suatu rumah sakit jiwa tempat ia dirawat beberapa tahun terakhir. Untuk memecahkan masalah kekurangan wadah pendidikan tinggi yang sesuai dengan aspirasi para mahasiswa di Indonesia, ia puny ide cemerlang.
    “Saya punya ide cemerlang untuk memecahkan masalah kekurangan wadah pendidikan tinggi yang sesuai dengan aspirasi para mahasiswa di Indonesia, ” katanya menyontek kalimat yang barusan saya tulis tadi. “Saya akan mendirikan lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan ilmu yang sangat sesuai dengan jiwa dan pembawaan para pemuda kita, agar mereka mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan dan mengamalkan bakat-bakat mereka, supaya dalam proses belajarnya tidak banyak yang akan putus sekolah seperti pada fakultas-fakultas konvensional lain: ekonomi, sos-pol, teknik, dan sebangsanya.
    “Kita tahu, semenjak SD, SMP, lalu SMA, generasi muda kita selalu dikondisikan untuk menerima saja segala ilmu dan pengetahuan yang diberikan kepada mereka oleh guru, tanpa diberi peluang untuk juga menyampaikan ilmu, pengetahuan, dan pendapat mereka kepada guru. Nah, pada usia 20-an, ketika mereka justru didesak kebutuhan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya, mereka diperguruan tinggi, eee, harus mendengarkan kuliah lagi. Pantesan mereka frustasi dan lalu suka memprotes dan membangkang, menggugat otoritas.
    “Maka itulah saya mau mendirikan fakultas yang justru mengakomodasi kebutuhan dan pembawaan para pemuda itu, yang tidak akan melahirkan frustasi mereka. Yaitu fakultas yang mengajarkan ilmu-ilmu protes, sebab saya yakin dengan begitu para mahasiswa bisa memperoleh wadah untuk menyalurkan aspirasi mereka. Dan tidak ada lagi mahasiswa yang dropout, atau yang memprotes pemilihan dekan atau rektornya, sebab bukankah protes sudah dimasukkan kurikulum, dan bukankah apa yang sudah masuk kurikulum para mahasiswa akan kehilangan napsu untuk melakukannya?”.
    “Lalu, apa saja mata kuliah yang harus diikuti di sana?” saya bertanya, sekedar agar dia tidak memonopoli dialog dalam tulisan ini.
    “O, ya, macam-macam,” jawabanya. “Pertama, Fakultas Protestologi itu dibagi dalam beberapa jurusan, yang merupakan spesialisasi dari ilmu protestologi umum. Ada jurusan Delegasi Terbatas, ada jurusan Petisi, dan jurudan Demonstrasi. Dalam jurusan Delegasi Terbatas, misalnya, ada matakuliah yang dinamakan “Ilmu Memperkecil Rombongan”: mahasiswa diajari dan dilatih berangkat berbondong-bondong, dan begitu datang di tempat tujuan membatasi jumlah penghadap menjadi beberapa wakil yang disebut para Pengatasnama. Juga dilatih untuk bisa dalam waktu singkat memilih siapa-siapa yang harus menghadap dan berdebat dengan sasaran protes, dan siapa yang harus dilatih duduk-duduk menunggu di lantai teras sambil membiasakan diri, eh, siapa tahu, kelak bisa jadi pejabat teras juga.
    “Dan pada jurusan Demonstrasi, ada banyak matakuliah yang harus dipelajari, termasuk praktikumnya. Ada matakuliah baris-berbaris dengan kacau. Ada pelajaran Sloganologi yang disertai asas-asas membuat poster dan matakuliah ilmu yel-yel. Matakuliah pokok dalam jurusan Demonstrasi adalah Ilmu Mengeles Pentungan dan Kebal Gas Airmata, untuk menghindari contingency apabila keadaan sudah berkembang sampai ke taraf itu. Para Dosen yang mengajar di Fakultas Protestologi harus membina para mahasiswa bagaimana menjawab jawaban-jawaban ‘Akan kami teruskan ke atas,’ atau ‘Saran Saudarakami tampung, ’Sebelum protes, Saudara seharusnya mempelajari dulu baik-baik, ’dan berbagai variasi dari macam itu.
    “Buat yang dijurusan Petisi, matakuliah pokok adalah berhitung.’
    “He? Berhitung?” Tanya saya, kali ini heran betulan.
    “Ya. Ditandatangani oleh 49 orang boleh. Limapuluh satu orang juga boleh. Asal jangan keliru 50. Sebab kalau itu terjadi, entah apa jadinya.”




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: